Pantat Nafa Urbach

Selesai maiyahan, Saya keliling di Bumiayu Benda, Watukumpul Pemalang, Semarang, Kotabaru Jogja, Jombang, dan Kediri - ternyata jadwal berikutnya adalah banjir, tanah longsor, kebakaran.

"Untung, rute perjalanan maiyah kali ini sudah selesai," kata
seseorang dari Kiai Kanjeng.
"Jangan bilang untung atau alhamdulillah di sisi penderitaan banyak
orang," sahut yang lain, "memang jadwalnya sudah disusun begitu."
Tiba-tiba seseorang yang lain nyeletuk: "Saya usul kepada Cak Nun,
tapi maaf-maaf....."
"Ya, gimana?" saya merespons.
"Maaf-maaf lho. Kan maiyahan itu dasar habitatnya lingkaran horizontal
atau bulatan horizontal vertikal. Metoda komunikasinya, ideologinya,
bentuk kemesraan budayanya, juga sumber ilmu kosmologinya. Bahkan,
keabadian cintanya pun bulatan. Setiap titik adalah pusat, setiap
titik bisa menjadi awal bisa menjadi akhir. Jumbuh. Kesadaran dan
penghayatan maiyah terus terang membuat saya sensitif terhadap setiap
gejala lingkaran atau bulatan...
"Ya, lantas?"


"Mohon jangan marah. Robbana ma kholaqta hadza bathila, Tak ada
sezarrah debu ciptaan Allah yang sia-sia. Cak Nun juga sering
mengatakan kita bahkan harus punya ilmu untuk menghargai tlethong atau
apapun saja. Singkat kata, saya mengusulkan kita bikin Maiyah Pantat."
"Ha?!!"

saya terhenyak. Juga semua teman-teman Kiai Kanjeng. "Saya
tadi kan bilang maaf-maaf. Pantat itu kan juga bulatan. Tuhan sengaja
menciptakannya demikian dan pasti ada tafsir maiyahnya."
Ia kemudian menyodorkan sebuah koran, menunjuk salah satu berita yang
berjudul "Pantat Britney Indonesia". Semua mengerubungi koran itu.....
"Omong-omong soal pantat," demikian salah satu kalimat dalam berita
itu, "belakangan Nafa begitu bangga mengakui bahwa memang pantatnya
kian padat. Banyak kok teman-teman yang menuji pantatku. Kata mereka,
lebih seksi. Memang bener iya, ya?"

Allah Maha Besar. Memang pantat Nafa Urbach pasti lebih menarik
dibanding wajah Akbar Tanjung, atau Tommy Suharto seganteng apapun
dia. Maka, pantat mendapatkan kehormatan dan derajat di media massa. 

Ratusan juta rakyat wajahnya tidak bisa menjadi bahan berita di koran
kecuali mereka ditabrak sepur, rumahnya ambleg kena tanah longsor,
atau lari maraton dijalan tol dengan telanjang bulat. Wajah ratusan
juta orang itu kalah derajat dibanding pantatnya Nafa Urbach. Allohu
muwaffiq fi aqwamit thariq. Siapa tahu Nafa Urbach adalah sejenis
waliyullah atau wakil Tuhan untuk membawa ilmu tentang kebulatan,
lingkaran, kekenyalan, dan keindahan kepada ummat manusia. Kalau
tidak, mana mungkin media massa sebesar itu memberinya tempat begitu
terhormat.

PANTAT NAFA URBACH

Maka, kalau koran itu memberi judul agak samar dengan menggunakan
kamuflase Britney Spears, kita harus lebih tegas dan militan dengan
bikin judul "Pantat Nafa Urbach". Kebenaran harus ditonjolkan karena
pantat itu sendiri ciri khasnya adalah menonjol. Secara khusus, saya
mengajukan kritik kepada koran yang bersangkutan. Kenapa berita
tentang pantat, gambarnya kok malah dada dan susu. Redakturnya pasti
tidak mengerti fokus dan angle.
Mestinya yang ditampilkan adalah close up bulatan pantat Nafa Urbach.
Atau, jangan-jangan para redaktur dan wartawan sengaja menyimpan
gambar pantat itu untuk mereka nikmati sendiri. Memang begitu kelakuan
orang koran. Itu ketidakadilan bagi para pembaca! Harus kita demo!!!



(Emha Ainun Nadjib)
Share this article :
 

+ comments + 2 comments

September 2, 2012 at 11:46 PM

dih?? kirain appa???

Anonymous
May 7, 2013 at 5:19 PM

Jebul cah maiyah cookkkk,,,,

Post a Comment

Thanks udah mampir...
Jangan lupa kasih komen ya!!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Em Farobi Afandi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger