Musholla Vs Tempat Belanja

Rasanya belum pernah saya dapati pusat perbelanjaan yang saya kunjungi sepi dari pengunjung,, baik itu yang sedang berbelanja, atau yang hanya sekedar nongkrong saja, apalagi seperti mall-mall yang ada di pusat-pusat kota, seperti Yogya, Grage, Sri Ratu, Moro, Pasifik dan yang sejenis dengannya.

Biasanya pusat-pusat perbelanjaan seperti itu di bangun dengan model yang mewah dan menawan, selain untuk mengikat hati pengunjung, juga untuk menjaga kenyamanan dan memuaskan service bagi pelanggan.

Tak hanya gedungnya saja yang mewah, kebersihannya pun selalu terjaga, setiap beberapa menit sekali, pasti akan tertangkap oleh mata kita para office boy yang sedang menyapu atau mengepel lantai, dan saya kira pemandangan seperti ini sudah jamak kita saksikan di Mall-Mall besar (kecuali kalau anda ngga pernah mengunjunginya, hehehe).

Namun, di balik gemerlap itu semua, ada pemandangan yang sangat memprihatinkan yang perlu di perhatikan dan di benahi, sekitar pertengahan bulan kemarin, saat saya beserta beberapa teman mengunjungi Pasifik Mall –salah satu mall besar yang berada di Tegal— seusai mengikuti lomba Bahasa Inggris di kampus Universitas Pancasakti (belum tahu kisahnya, ayo baca dulu disini!)

, sebelum kami bershoping ria (sebenernya ngga shoping sih, Cuma jalan-jalan doang), terlebih dahulu kami, melaksanakan sholat Ashar, kebetulan saat kami tiba di Pasifik, waktu sholat Ashar sudah tiba, kami langsung menuju Musholla Pasifik yang –setelah kami tanya ke salah satu OB— ternyata ada di lantai dua.
Tempat yang di sebut Musholla tersebut berada di lantai dua, pojok sebelah parkiran motor (karena parkiran motor juga berada di lantai dua), saya sempat termenung ketika seusai melaksanakan sholat, apa yang saya renungkan?, anda bisa bayangkan tempat yang di sebut Musholla, yang di gunakan untuk bersujud kepada tuhan yang maha kuasa, saya katakan tidak lebih mewah dari tempat parkir!, kumuh dan berdebu seperti tak terurus, di situ ada beberapa sajadah yang nampaknya tidak pernah di cuci, baunyapun terasa tidak sedap, cat di temboknya sudah berlumut, anda bisa bayangkan sendiri bagaimana keadaannya.

Dari foto diatas, kita bisa bandingkan, mana yang lebih terawat dan mana yang lebih mewah. Kebanyakan Mall-Mall memang hanya menyediakan Musholla sebagai formalitas belaka, namun tidak sedikit yang menyediakan musholla yang lebih dari Musholla yang ada di desa-desa, semua itu kembali kepada pengelola.

Yang saya pertanyakan, dari sekian banyak OB yang bekerja, tidak adakah satu saja yang merawat Musholla, atau minimal membersihkannya?.

Harapan saya, pengelola Pasifik Mall Tegal hususnya, dan semua pengelola Mall indonesia, di harapkan lebih memperhatikan fasilitas Ibadah, terutama tempat sholat,. Jadi, bukan hanya fasilitas perbelanjaan saja yang selalu di utamakan. Semoga ada pembenahan.
Share this article :
 

+ comments + 1 comments

September 1, 2013 at 9:26 AM

Ya begitulah, udah jadi rahasia umum dan lumrah. Pengalam juga waktu di Jakarta, di sela seleksi beasiswa, pernah berkunjung ke salah satu Malla besar. sekali lagi keadaannya sama, bahkan mushala pria dan wanita jadi satu, ples sempit sekali . Alhasil ketika waktu shalat terjadi antrian dan yang paling menganggu ga bisa berlama-lama di rumah Tuhan. Salah satu ciri kapitalis, hanya mengeksploitasi sisi duniawi, tanpa menyentuh aspek ruhani. bahasa kasarnya, Silahkan berbelanja sepuasnya, ga usah dengeri Adzan" Well, sekali lagi perubahan dimulai dari pribadi masing2. Ditunggu blogwalkingnya di Miftahunanote.blogspot.com . Akh tantang komen :)

Post a Comment

Thanks udah mampir...
Jangan lupa kasih komen ya!!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Em Farobi Afandi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger