Sang Kiai dan Slilitnya

Memang nggak jelas apa bahasa Indonesianya, tapi biasanya, kalau sehabis di traktir makan sate ada serabut kecil yang nyelip di gigi—dan itulah Slilit.
Slilit memang ngga penting sama sekali, ngga pernah masuk TV atau Majalah, apalagi sampai di perdebatkan di sidang paripurna, tapi ada sebagian orang yang menggantungkan hidupnya dari benda kecil ini, yaitu mereka para pengrajin dan pemroduksi tusuk gigi, dan entah kenapa dinamakan tusuk gigi, padahalkan yang ditusuk kan slilitnya bukan giginya.
Namun, walau ngga begitu penting, slilit pernah memusingkan seorang Kiai di alam kuburnya, bahkan mengancam kemungkinan ‘suksesnya’ masuk surga, Kiai Zaidun namanya, Beliau punya Pondok besar dan banyak santri, ilmunyapun ngga perlu diragukan lagi, sehari beliau bisa sampai sepuluh kali ngajar santri ngaji, tentunya di berbagai pengajian yang berbeda-beda, beliau ngajar mulai dari Jurumiyah sampai Al-fiyah, mulai dari Fathul Muin Sampai Sirojut Tholibien. Hampir semua cabang ilmu dikuasainya, dan konon kata kang Jepri, Mbah Yai Zaidun ini punya Ilmu Lempit Bumi, juga malah katanya sampai Ilmu Kanuragan pun Beliau kuasai.
Beliau juga
melatih ke-tawakalan-nya sejak masih di pondok dulu, beliau itu sewaktu masih belajar di Pesantren kiriman uang dari orang tuanya 3x lipat lebih banyak dari pada kiriman teman-temannya, tapi uang kiriman tersebut habis tak tersisa dalam jangka waktu tiga hari, beliau traktir semua temannya di warung, satu persatu sahabat karibnya beliau tanya ‘kama mau beli apa? Nanti aku belikan’, kata beliau, dan itulah Kiai Zaidun. Lalu setelah uang itu habis, lantas Kiai Zaidun ngga minta-minta ke teman-temannya, beliau puasa, dan beliau hanya makan kalau ada rezeki datang menyapanya, namun hebatnya Beliau ngga Tamak apalagi minta-minta seperti kita pada umumnya.
Banyak memang kehebtan beliau, salah satunya lagi, beliau Kiai Zaidun itu pernah belajar silat langsung sama Gus Maksum; Jawara Silat Pagar Nusa Indonesia, dan pantas saja kalau Mbah Zaidun itu jadi pendekar, beliau blajar silat sama Gus Maksum kurang lebih selama tiga tahun. Kang Brudin –yang  asistennya Kiai Zaidun itu—pernah  cerita, suatu ketika, sepulang dari perjalanan, Kiai zaidun bersama kang Brudin di cegat Begal di tengah jalan, “kalo ngga salah saya hitung ada sampai 7 orang begal waktu itu”, kata kang brudin, tapi dengan tangkas Kiai zaidun langsung membabad 7 orang tersebut tanpa ampun, dengan hanya menggunakan satu jurus, mungkin begal-begal itu belum tau dengan siapa mereka berhadapan.
Namun sayang, di suatu pagi hari yang cerah, Kiai Zaidun mendadak di panggil Tuhan. Sebelum para santinya siap untuk itu, murid-murid setia itu sesudah menguburkan sang kiai, lantas nglembur ngaji behari-hari—agar diperkenankan ketemu roh beliau barang satu atau dua saat. Dan Allah yang maha memungkinkan segala kejadian ahirnya menunjukan  tanda kebesaran-Nya. Dalam mimpi para santri, Roh kiai menemui mereka.
Terjadilah wawancara singkat, perihal nasib sang kiai “disana”. “Baik-baik, nak. Dosa-dosaku umumnya di ampuni. Amal-amalku di terima. Cuma ada satu hal yang membuatku terancam gagal masuk sorga. Kalian ingat waktu aku memimpin tahlil di desa sebeblah?, sehabis makan bareng, para tamu undangan berebut menyalami ku, hingga tak sempat aku mengurus slilit di gigiku. Ketika pulang, di tengah jalan barulah aku bisa bebuat sesuatu. Karena lupa gak bawa tusuk slilit maka aku mengambil potongan kayu kecil di pagar orang. Alangkah sedihnya: aku tak sempat meminta ma’af pada yang punya pagar itu, peihal pencurianku itu, apakah Allah akan mengampuniku?.
Teinspirasi dari kolomnya Cak Nun.
12.07 
03-februari-2011
Share this article :
 

+ comments + 6 comments

March 22, 2011 at 12:54 PM

judul ini sangat identik dengan cak nun. jadi terkenang akan sesuatu

March 24, 2011 at 11:24 PM

Kita memang harus berhati-hati dalam masalah halal haram, tidak menggampangkan hal-hal kecil. Bahkan seandainya telah diputus oleh hakim dan kita menang, maka keputusan hakim itu tidak membuat sesuatu yang tadinya haram jadi halal.

March 27, 2011 at 2:24 AM

Iya mas...memang benar kata Imam Ghozali;
pembatas antara halal dan dan haram hanya setipis benang,

March 28, 2011 at 6:50 AM

met malam

April 11, 2011 at 7:04 AM

memang sulit yachhh membedakannya, dan kadang qt terkesan ssorg yg cman ngikut, hehehee q dinkk!

April 11, 2011 at 7:18 AM

ea yachhh, susahnya,,,q sndri terkadang untuk nntuin tuh ngikut yg umum org diikuti..

Post a Comment

Thanks udah mampir...
Jangan lupa kasih komen ya!!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Em Farobi Afandi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger