Tantangan Pesantren di Era Global



Saya tak pernah berhenti berharap pesantren dapat memberikan pendidikan yang seimbang: formal dan tradisional. Disini letak tantangan pesantren di era global—mengambil kurikulum baru dengan tanpa menganaktirikan kurikulum tradisional. Agar pesantren tak kehilangan jati diri.
Peningkatan jumlah pesantren di Indonesia terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sayangnya, kualitas tak seimbang dengan kuantitas: dewasa ini, kualitas pendidikan di pesantren mengalami kemerosotan yang tajam. Mengapa demikian? Ada beberap faktor merosotnya mutu pendidikan pesantren. Salah satu faktor utama kemerosotan kualitas pendidikan pesantren, menurut saya, adalah kebanyakan dari pesantren sekarang (baca: Pesantren Modern) lebih mengedepankan bahkan mem-”fardu”-kan pendidikan (sekolah) formal terhadap para santrinya. Maka, jangan heran kalau ada santri yang sudah mondok tiga tahun tapi ditanya masalah i’rob saja ”ndak mudeng” (tidak paham).


Sehingga, saat ini, kita sulit sekali menemukan pesantren yang benar-benar produktif mencetak santrinya. Ma’had Lirboyo, misalnya, adalah pesantren yang benar-benar bisa mencetak kiai atau minimal ustad yang dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya. Bukan ”ustad” balsem seperti yang marak nongol di TV, khususnya, setiap bulan Ramadhan.

Faktor lain adalah kiai sibuk kampanye, partai, dan calegnya. Ironisnya, sampai menganak-tirikan santri dan pesantrennya sendiri. Itu pula sebabnya, kiai tidak lagi “mberkahi” santrinya.

Berbeda dengan kiai dulu yang selalu tirakat untuk santri dan pesanternnya. Misalnya, kalau kita lihat Mbah Dim (Abuya Dimyati) Banten. Beliau ketika sedang mengaji bersama santri-santrinya tak bisa diganggu meskipun oleh tamu. Tak peduli ratusan tamu menunggunya. Itulah bukti konsistensi dan tanggaung jawab seorang kiai terhadap santri-santrinya.

***


Kebanyakan pesantren yang menyebut dirinya pesantren modern mempunyai visi yang sangat rendah, setidaknya menurut saya. Masa, visinya hanya agar santrinya dapat melanjutkan kuliah baik di dalam maupun luar negeri. Lalu, dapat pekerjaan. Kalau kita berpikir jernih, kesuksesan pesantren dalam mendidik santrinya bukan karena santrinya ada yang melanjutkan keluar negeri atau tidak. Akan tetapi, siap atau tidak untuk menjadi harapan, panutan, dan tuntunan bagi masyarakat. Singkatnya, kebanyakan pesantren sekarang telah kehilangan jati diri, yaitu memformalkan pendidikan dan ”menganak tirikan” sistem pendidikan tradional (baca: kajian agama-turats). Pesantren yang hanya menitik beratkan pada pendidikan formal, masih layak kah disebut pesantren?

Saya tak pernah berhenti berharap pesantren dapat memberikan pendidikan yang seimbang: formal dan tradisional. Disini letak tantangan pesantren di era global—mengambil kurikulum baru dengan tanpa menganaktirikan kurikulum tradisional. Kalau setiap pesantren sudah menerapkan metode seperti itu, akan tercipta keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum. Insyaallah, hasilnya dasyat sekali. Lulusan pesantren yang memiliki bekal Imtak; keimanan dan ketakwaan. Sebab, di era globalisasi santri yang nggak boleh gaptek agar siap menghadapi pelbagai macam problematika kehidupan.

Dengan demikian, harapan lahirnya anak muda yang berwawasan luas dan menguasai pelbagai macam disiplin keilmuan dapat terwujud, sebagaiman lulusan sekolah di Iran.

Dalam wawancara dengan salah satu majalah, Kang Said (sapaan akrab Prof. DR K.H. Said Aqil Siradj) menuturkan, ”Santri yang sudah menamatkan Tsanawiyyah di Iran (setingkat aliyah di Indonesia) sudah mampu menguasai Ushul fiqh, Ilmu kalam, Filsafat, Logika/ mantiq, filsafat. Bahkan sering alumnus tsanawiyyah Iran lebih unggul dari alumnus S-1 bidang agama di Indonesia.”

Itulah yang seharusnya menjadi acuan: sebuah kemajuan bidang pendidikan, dan seharusnya pesantren di Indonesia harus bisa lebih dari itu. Karena, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Semakin tua harus semakin berkembang dong, bukan malah semakin merosot.[]

Tulisan ini pernah di muat di: http://kedungwungu.com/kolom/47-tantangan-pesantren-di-era-global.html
Share this article :
 

+ comments + 7 comments

March 16, 2011 at 9:33 PM

setuju2,,

March 18, 2011 at 11:09 PM

ok,,,, mkasih dah mampir..
thanks for your comment...

March 22, 2011 at 1:08 PM

sangat mencerahkan, tulisan ini layak di konsumsi para Kyai dan Gus.

March 26, 2011 at 10:41 PM

ea maz saya berharap juga pesantren itu bisa mendidik ....... bkan mengatagorikan....

March 27, 2011 at 2:21 AM

@mas novi:thank you mas udah sempet mampir..
@ dloen: ya semoga...

April 4, 2011 at 4:05 PM

Pesantren modern tidak ahanya sekedar nama saja tapi selayakanya memperkenalkan teknologi pada santrinya

April 6, 2011 at 12:09 AM

@mawardi: betul itu mas...
Makasih kunjungannya...

Post a Comment

Thanks udah mampir...
Jangan lupa kasih komen ya!!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Em Farobi Afandi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger