Latest Post

Berdamai dengan Mantan


 

Saya tiba-tiba ingat percakapan beberapa bulan lalu, tepat di hari perdamaian dunia:
“Cak, bagi sampean, arti perdamaian itu apa?”
“Tumben kamu nanya begituan?” Pancing saya.
“Ya mumpung sekarang hari perdamaian Cak, mari kita rayakan, biar kekinian.”
Sebelum meladeninya lebih lanjut, saya seruput terlebih dahulu kopi Aroma robusta—kiriman teman dari Bandung tempo hari—yang masih kemepul menggoda.
“Arti perdamaian?” Pancing saya sekali lagi.
“Iya Cak! Makna perdamaian!” Sahutnya dengan berapi-api.
“Bagi saya Cah, hidup ini baru benar-benar damai sentosa-sejahtera, kalau kita bisa berdamai dengan mantan-mantan. Itu aja sih,” Celetuk saya santai, sambil menghembuskan asap kretek tingwe yang baru saya linting semalam.
Kawan saya, Cahyadi (bukan nama samaran), tertunduk diam-lemas selepas mendengar jawaban saya. Wajahnya pucat. Sorot matanya sayu-sendu. Saya berusaha tenang. Sebelum saya menanyakan apa yang terjadi, Cahyadi sudah terlebih dulu mengangkat kepalanya, lalu berkata, “Nganu Cak,” dengan ekspresi yang saya yakin belum pernah sampean jumpai pada spesies manusia manapun, “apa ya nggak ada makna lain, gitu?” tukasnya.
“Lho emangnya kenapa, Cah?”
“Lha sampean tahu sendiri, kan saya jom… blo, Cak.” Dia kembali menundukkan kepala setelah kata jomblo keluar dari mulutya, dengan nada bikin haru bagi siapa saja yang mendengarnya.
Mendengar Cahyadi yang berucap sendu, saya langsung menghentikan isapan kretek saya. Saya memang mudah sekali tersentuh haru tiap kali mendengar kata ‘jomblo’.
Dengan tetap menundukkan kepalanya, Cahyadi melanjutkan ungkapan hatinya,
“Udah gitu, saya kan belum pernah pacaran, bagaimana mungkin saya bisa berdamai dengan mantan-mantan, Cak… Wong satu saja ndak punya? Berarti saya belum bisa merayakan hari perdamaian dunia dong?” Tutup Cahyadi. Air matanya perlahan menetes ke dalam gelas kopi robusta di hadapannya.
* * *
Sebelum bercuap-cuap lebih panjang dan tambah tak berfaedah, saya ingin terlebih dahulu kasih saran. Kalau nasib sampean persis seperti kawan saya Cahyadi (yang jomblo sejak lahir), sebaiknya sampean nggak usah seleseikan pembacaan tulisan ini. Cukup sampai di sini. Cukup. Atau kalau sampean mbandel, ya siapin tisu aja.
Baiklah, saya mulai berkisah kembali.
Coba sampean bayangkan, betapa damainya dunia ini kalau sesama mantan tidak lagi hanya saling stalking akun medsos satu sama lain—hanya demi mengetahui bagaimana kabar si doi setelah berpisah—tetapi dengan langsung menghubunginya melalui WhatsApp,
“Apa kabar hidupmu? Mudah-mudahan selalu dilimpahi kebahagiaan bersama kekasih barumu.”
Boleh juga ditambahi emot smile :).
Atau kalo sampean masih hidup sekota dengan sang mantan, saran saya sampean kirim pesan begini,
“Hai! Apa kabar? Nanti malem ngopi bareng yuk, di kedai kesayangan kita dulu?”
Nah! Adem sekali, bukan? Oh ya, jangan lupa saat kamu WhatsApp begitu, pastikan si doi sedang nggak sama pacar barunya, ya. Ya sampean kira-kira sendiri sajalah, kapan waktu tepatnya.
Sekarang coba sampean bayangkan, betapa damai sentosanya dunia ini kalau bukan hanya 1-2 pasang mantan saja yang merayakan perdamaian dengan cara demikian, tetapi seluruh pasang mantan di pelosok bumi. Hal ini penting, karena menurut survei Afkaria Institute tahun 2016, ketidakdamaian dunia, 85 % adalah karena pengaruh sepasang mantan yang tidak lagi akur. Sangat mengerikan memang.
Ada satu hal lagi yang perlu saya klirkan di sini. Berdamai dengan mantan bukan berarti pertanda gagal move on atau gejala CLBK. Justru sebaliknya, berdamai dengan mantan adalah simbol move on paling paripurna bagi seorang anak manusia.
Lho, kok bisa?
Berdamai dengan mantan itu artinya sampean sudah bisa mengikhlaskan perasaan cinta yang dahulu bersemayam, kemudian pergi. Meridhoi sang mantan menemukan jodohnya yang benar-benar tertulis di tangan Tuhan, yang kemungkinan besar bukan sampean.
Yang juga harus sampean sadari, ikhlas adalah salah satu sifat terpuji yang paling paripurna, paling pol pahalanya. Artinya, berdamai dengan mantan merupakan seluas-luasnya ladang pahala. Jangan sampean sia-siakan kesempatan beribadah yang aduhai ini.
Oh ya, kalau masalah CLBK, jauh-jauh hari Mbah Pram dalam Bukan Pasar Malam sudah wanti-wanti,
“Kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenang-kenangannya sendiri.”
Nah, solusinya ya sampean jangan terlalu baper tho. Biarlah perasaan sampean mencari tempat berlabuh lain, dan biarkan doi bahagia bersama pasangan barunya.
Adapun kalo sampean masih juga belum dapet pengganti, ya itu derita sampean sendiri. Jadi ya memang butuh perjuangan untuk melawan kenang-kenangan indah tatkala sampean sedang mencoba untuk berdamai dengan mantan.
Kenangan?
“Lawan!”
Pesan Widji Thukul.

 

Sebuah Hadiah yang Tak Ternilai Harganya

Sudah sekian lama saya alpa dari kegiatan blogging, kasihan juga blogku karena sudah beberapa minggu tak ter-apdet. Bukan karena apa-apa, kegiatan offline lah yang menjadi kendala utama; dipilih jadi ketua ini lah, jadi sekretaris itu lah, tak terasa jabatan-jabatan yang saya emban cukup menyita waktu dan energi saya, sehingga saya tak sempat menyisakan waktu walau -hanya- untuk bisa menuangkan satu dua ide yang bergelantelan di benak dan fikiran ke dalam sebuah tulisan.
Pada ahirnya, blog saya yang sudah dibuat pada kisaran tahun 2007 dengan memanfaatkan jasa Mbah Google pun terbengkalai tak tahu ujung rimbanya.
Ditambah lagi pada saat ini semangat saya untuk ngeblog sedang ngedown, ma'lum lah, namanya juga semangat, pasti ada pasang surutnya juga kan?
Pernah terlintas dibenak saya pada suatu malam, "apakah perlu saya membuat blog dengan domain pribadi untuk kembali membangkitkan semangat blogging saya?", tak hanya sekali, beberapa kali dilain kesempatan ide ini terlintas. Karena bagi saya, dengan memiliki blog menggunakan domain pribadi alias bukan gratisan itu lebih asyik dan lebih merasa bertanggung jawab untuk mengapdet postingan secara rutin, selain intu juga dengan mempunyai blog domain pribadi saya akan lebih merasa memiliki, karena pastinya saya harus merogoh agak dalam kocek saya untuk bisa mewujudkan ide yang satu ini, membuat blog dengan domain pribadi.
"Gusti Allah ngga akan memberikan apa yang kamu minta le, tapi Gusti Allah bakal ngasih apa yang kamu butuhkan", pesan Mbah kakung saya pada suatu hari.
Nampaknya nasehat Mbah Kakung saya ini cespleng dan saya yakini benar memang. Suatu malam di Laboratorium Komputer Malhikdua, disaat dedengkot arek-arek M2Net kumpul untuk berjuguran ria dengan guru kita (yang ngga punya SK ^_^), beliau datang dari Surabaya, Cak Novi namanya -lebih akrab disapa paman Gembul- saat itulah saya mendapat kabar gembira, apakah gerangan kabar gembira itu?

Tak disangka dan Tak dinyana, dengan isengnya Cak Novi memberi saya sebuah regrads yang tak ternilai harganya, Sebuah blog dengan domain pribadi, karena beberapa minggu sebelum kedatangan Cak Novi ke Malhikdua -alhamdulillah saya ucapkan, karena saya baru saja menggondol tropi juara kedua lomba menulis nasional yang diselenggarakan oleh komunitas Internet Cerdas Indonesia.
Terima kasih banyak saya ucapkan kepada Cak Novi yang sudah ngompor-ngompori saya untuk suka nulis, berkat jasanya pula saya sekarang bisa menjadi seperti sekarang, sekali lagi terima kasih Cak, engkau emang baik hati dan ngga sombong :)

Bagi anda yang ngga sabar ingin berkunjung ke blog baru saya, silahkan pencet link dibawah ini,
http://emfarobi.web.id 

Semoga dengan kehadiran blog baru ini saya jadi semakin semangat nulis, nulis dan nulis (eiits, jangan lupa dipublish ya, hehe).
Oya, di blog baru ini, sengaja saya membuat beberapa kategori yang Insyaallah akan rutin saya apdet dengan tulisan baru saya.
Kategori yang pertama adalah Santri Area, disini saya akan berbagi seputar dunia dan kehidupan santri sehari-hari, karena saya ingin blog ini menjadi perekam jejak saya selama nyantri di PP. Al-Hikmah 2. Kemudian yang kedua adalah kategori dengan title Menjadi Manusia, seputar kajian 'Tasawuf-Sosial' tentang kita dan Indonesia.
Yang ngga boleh ketinggalan untuk disebutkan adalah kategori Touring, pastinya karena saya memang pecinta travelling, semoga bisa menjadi perekam jejak saya dimana pun kaki ini melangkah.
Yang terahir adalah kategori Sudut Sastra, walaupun saya bukan sastrawan, tapi terkadang saya iseng untuk membuat beberapa jenis karya sastra, dan yang paling sering adalah puisi.
Selamat menikmati menu-menu yang saya sajikan di blog baru ini.

Salam Blogger!

 

Merajut Kembali Kenangan Indah di SMP Al-Hikmah


Telat mosting, itu jelas, karena acara ini sudah kelewat lebih dari seminggu, tapi tak apa lah, karena telat itu lebih baik dari pada tidak sama sekali :) www.ngeles.com
Hari itu sangat terasa spesial sekali, ya pastinya, karena dipagi yang cerah karena ngga lagi musim hujan kurang lebih seratus alumni SMP Al-Hikmah dari tiga angkatan dapat kembali bersua stelah sekian tahun berpisah lamanya, kumpul bareng alumni atau yang sering disebut reuni ini diprakarsai oleh organisasi Alumni SMP Al-Hikmah, yang sepakat kita namai FORSALSA (Forum Silaturrahim Alumni SMP Al-Hikmah) yang merupakan agenda reuni perdana dari FORSALSA, karena umur organisasi yang di ketuai oleh Arif Fadlurrohman ini baru berdiri sekitar dua tahun yang silam, dan Arif adalah ketua generasi kedua, setelah sebelumnya Agung Saputra yang menjadi ketuanya.
Aku pribadi sangat gembira luar biasa, karena angkatanku lumayan banyak yang tidak berhalangan hadir dalam agenda yang rencananya akan dijadikan agenda tahunan FORSALSA ini, sehari sebelum acara, ada beberapa alumni yang sudah lebih dulu hadir, setidaknya itu sudahmembuat panitia lega, kenapa?
Acara reuni perdna ini, kalau dibilang mendadak memang mendadak, padahal sebenarnya sih tidak, lho kok?, iya persiapan reuni memang sudah dirancang semenjak satu bulan sebelum acara, namun dasar santri, kalau acaranya belum deket ya santai aja, tapi hal itu berikabat buruk sebenarnya, sekitar beberapa minggu sebelum acara, pengumuman di dinding grup FB FORSALSA sudah nongkrong siap untuk dibaca, namun panitia salah perhitungan, berminggu-minggu pengumuman itu menempel didinding FORSALSA, tetapi hanya beberapa glintir alumni saja yang membacanya, setelah ditelisik, ternyata banyak alumni yang aktif di FB tetapi belum tergabung di Grup ini, waduh!, barulah ketika H-3 acara panitia mengumumkan kembali acara reuni dengan menyebarkannya di dinding-dinding alumni, dan panitia menyebarkan juga beritanya lewat SMS, nah, karena keterlambatan publikasi itulah yang mejadi kendala, ada beberapa alumni yang bilang, “Lho kok acaranya ndadak banget ya?”, “wah kenapa baru di kabari sekarang?, aku ngga bisa dateng”, “Lho kok, kenapa pengumumannya baru diumumin sekarang sih, mepet banget?”, kata-kata mereka itulah yang sempat membuat panitia was-was, adakah alumni yang bisa hadir sebanyak snack yang dipesan?
Walaupun sudah ada rencana jauh-jauh hari sebelum acara, tapi beberapa something belum juga dipersiapkan pada H-2 Acara, gila!. Sehari sebelum acara terpaksa aku dan Arif mendadak melenggangkan kaki ke Bumi Ayu, ngapain? Buat bikin stiker, what? Bikin stiker? Acaranya kan besok, ya itulah kegilaannya, untung saja semuanya bisa teratasi, stiker yang kita pesen bisa rampung digarap hanya dalam kurang dari sehari, huuft..


Namun setelah sedikit demi sedikit alumni datang, lega juga rasanya, karena acara ngga akan rame kalau alumni yang datang sedikit, ahirnya ada sekitar kurang lebih 100 alumni dari tiga angkatan bisa hadir dalam acara reuni perdana ini, semoga bisa menjadi sebuah awalan yang baik, dan harapannya tahun depan harus ada lebih banyak lagi alumni yang bisa hadir, dan problem pada tahun ini semoga bisa menjadi pelajaran buat panitia acara reuni tahun depan. Adapun rangkaian acara pada agenda Reubi yang bertajuk “ Merajut Kembali Kenangan Indah di SMP Al-Hikmah” ini adalah seperti yang bisa kamu saksikan dibawah ini, cekidot!

MC (malu-malu kucing) berpose

acara dibuka dengan pembacaan ayat suci al-quran
oleh eko widiyanto (alumni 2010)

sambutan kepala sekolah Drs. H. Mustholih H, M.Pd. I


persembahan dari OSIS (kuda lumping)
*abis pada makan apa tuh? kok pada terkapar?*


sharing bareng, dipimpin oleh Em Farobi dan Linno
ahirnya makan juga :)

kembali bercengkrama setelah sekian tahun berpisah,
sebuah kenikmatan yang tiada duanya

Mas Tulus (alumni 2007), pembina FORSALSA
memimpin rapat rencana agenda kedepan FORSALSA

berpose besama usai acara
yang wajahnya tertera diatas adalah alumni2 angkatan 2010
angkatan yang lainnya ngga tahu kemana fotonya 
Walaupun acaranya sederhana, tapi begitu bermakna.
Sukses selalu buat FORSALSA!
 

Bersua dengan Ramadhan (Kembali)

Tidak ada perbedaan yang mencolok antara orang (Islam) Indonesia dan orang (Islam) Mesir dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, kedua-duanya dengan tidak biasa-biasa saja menyambut hangat kedatangan bulan Ramadhan, karena mereka memang tahu atau bahkan mungkin menyadari dengan hati keutumaan-keutamaan yang dimiliki bulan yang didalamnya ada malam seribu bulan ini.
Barulah ketika hari raya Idul Fitri kurang tiga hari lagi, baru kita dapati perbedaan diantara keduanya,  berbondong-bondong rakyat yang pernah punya presiden Kiai ini menyiapkan segala macam apa yang mereka butuhkan, menyambut idul fitri bagi orang Indonesia bagai menyambut sesuatu yang telah mereka tunggu-tunggu sejak lama, dan telah mereka rindukan pula, beramai-ramai mereka menyalakan kembang api, para pemuda desa biasanya malah membuat semacam acara perayaan untuk melepas kepergian bulan Ramadhan menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri, tetapi logikannya, kalau sesuatu yang kita sukai pergi, tidak senang sama sekali perasaan kita, itu seharusnya. Seperti orang Mesir yang merasa sangat sedih dan tak secuil yang menangis tetkala Idul fitri tinggal menghitung hari, mereka benar-benar tidak menginginkan kepergian bulan Ramadhan.
Dan disinilah kita baru bisa mengetahui, manakah yang benar-benar mengetahui dengan hati keutamaan bulan Ramadhan, seperti yang pernah disabdakan Kanjeng Nabi SAW.
Ya, itulah diri kita, orang orang Indonesia, yang salah persepsi perihal Penyambutan hari raya Idul Fitri yang justru sesungghnya adalah ahir dari pada bulan yang penuh berkah ini.

Mari bersama-sama kita perbaiki diri di bulan yang benar-benar spesial dihadirkan Allah untuk ummat nabi Muhammad SAW ini, dan kita harus benar-benar bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk kembali bersua dengan bulan yang sungguh ruar biasa,
Marhaban ya Ramadhan!
 

Keberaduan dalam Siluet Kerinduan

Resah dan gelisah
Itulah yang kurasakan
Saat diri Mu jauh dari pelukan


Ingin kudendangkan lagu rinduku untuk Mu
Ingin ku lantunkan bait syair cintaku
Namun kutak kuasa
Ku dimabuk cinta,


Wahai penguasa langit biru
Aku merindukan dekapan cinta Mu
Bebaskan aku dari keluh resahku
Ingin rasanya ku buka tirai rinduku
Tuk melihat indahnya hamparan mahabah Mu
Berikanlah aku anggur cinta Mu
Dan biarkan aku di mabuk cinta
 

Pantat Nafa Urbach

Selesai maiyahan, Saya keliling di Bumiayu Benda, Watukumpul Pemalang, Semarang, Kotabaru Jogja, Jombang, dan Kediri - ternyata jadwal berikutnya adalah banjir, tanah longsor, kebakaran.

"Untung, rute perjalanan maiyah kali ini sudah selesai," kata
seseorang dari Kiai Kanjeng.
"Jangan bilang untung atau alhamdulillah di sisi penderitaan banyak
orang," sahut yang lain, "memang jadwalnya sudah disusun begitu."
Tiba-tiba seseorang yang lain nyeletuk: "Saya usul kepada Cak Nun,
tapi maaf-maaf....."
"Ya, gimana?" saya merespons.
"Maaf-maaf lho. Kan maiyahan itu dasar habitatnya lingkaran horizontal
atau bulatan horizontal vertikal. Metoda komunikasinya, ideologinya,
bentuk kemesraan budayanya, juga sumber ilmu kosmologinya. Bahkan,
keabadian cintanya pun bulatan. Setiap titik adalah pusat, setiap
titik bisa menjadi awal bisa menjadi akhir. Jumbuh. Kesadaran dan
penghayatan maiyah terus terang membuat saya sensitif terhadap setiap
gejala lingkaran atau bulatan...
"Ya, lantas?"

 

Alhamdulillah, Saya Juara Dua!


Alhamdulillah, ku rasa itulah kata satu-satunya yang tepat untuk mengawali cakap-cakap kali ini.
Pada awal aku sendiri tak percaya bahwa tulisanku (Santri Al-Hikmah 2, Berkarya Lewat Dunia Maya) yang ku ikutkan dalam kontes menulis artikel nasional yang diadakan Internet Cerdas Indonesia bisa meraih juara 2 Utama, sungguh kenikmatan yang tak terduga sebelumnya.
Memang maha benar yang telah berfirman "maka nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan".
Sebenarnya aku sendiri sempat gagal untuk mengikuti lomba ini, namun sepertinya memang segalanya telah dituliskan, tuhan masaih memberiku kesempatan.
Ketika lomba ini diadakan, kebetulan sekali
bertepatan dengan masa-masa pemberangkatan PKL, apalagi aku sat itu ditunjuk menjadi ketua kelompok, ngurusin ini lah, itu lah, ya ma'lum namanya juga ketua, aku juga sempet bingung, apa yang mau aku tulis saat itu, ahirnya terlintaslah ide untuk menulis perjuangan kawan-kawan dalam mengembangkan IT di Pesantren, jujur aja, artikel itu aku tulis disela-sela kesibukan Pra-PKL, namun memang begitulah jalanku untuk menjadi pemenang, ya tuhan bisa saja dengan mudah memudahkan segala urusanku. 
Thanks all my best friend (yang ngrasa aja ^_^), karena doa dan bantuan kalian aku bisa jadi juara (dua).
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Em Farobi Afandi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger